29 Juli 2012

CU Karya Bersama: Bertekad Menyejahterakan Petani

 
Ruangan itu hanya diisi empat kursi tamu. Kursi-kursi ini menghadap ke meja penerima tamu. Sebuah kipas angin menderu-deru untuk mengurangi udara panas siang terik itu. Di dinding terpampang sebuah artikel mengenai koperasi yang pernah ditulis di Majalah Hidup.

Di balik meja itu, dua gadis manis siap menerima tamu. Seorang laki-laki setengah baya yang akan menyetor uang, sedang dilayani salah seorang dari gadis-gadis tersebut.

Itulah sekilas suasana di kantor Credit Union (CU) Karya Bersama yang beralamat di Jalan Satak, Dusun Dorok, Manggis, Puncu, Kediri, Jawa Timur. Dusun Dorok adalah salah satu stasi dari Paroki St Mateus, Pare, Jawa Timur. CU ini berkoordinasi dengan Seksi PSE Paroki Pare. CU Karya Bersama terbuka bagi semua agama.

Gregorius Dwi Santoso, Manajer CU Karya Bersama, menjelaskan, koperasi kredit ini lebih mengutamakan agar para anggotanya bisa mengelola keuangan dan bisa menabung. Ini sebuah proses pembelajaran terus menerus kepada lebih dari 500 anggotanya yang sebagian besar bermata pencarian sebagai petani.

Wilayah kerja CU Karya Bersama meliputi seluruh Kabupaten Kediri. Memang sebagian besar anggotanya berasal dari Dorok, tetapi penduduk dari desa-desa lain ikut menjadi anggota seperti dari Kapasan, Nanas, Jambean. Ringin Bagus, Kunjang, Kandangan, Gadungan. “Wilayah kerja kami seluruh Kabupaten Kediri. Di sini ada 10 desa. Kami menjangkau sampai paling utara Kediri, Desa Puwadi dekat Jombang. Dan desa-desa dekat lereng Kelud,” jelas Mas Dwi, panggilan akrabnya.

Karena usianya masih muda, masih enam tahun, CU ini memprioritaskan pinjaman yang bersifat produktif. “Sedapat mungkin kami arahkan peminjam ke aktivitas yang produktif, untuk usaha. Kalau untuk beli rumah misalnya, kami masih pikir-pikir dulu. Rumah biayanya besar. Prioritas untuk usaha produktif supaya modal cepat kembali.”

Jemput bola

Karena anggotanya petani dan pedagang kecil yang sibuk mencari nafkah, maka upaya menambah anggota dilakukan dengan cara jemput bola. Selain mendatangi para calon anggota, mereka juga mengadakan promosi dan pelatihan mengenai seluk beluk CU.

Mas Dwi bersama rekan-rekannya, memang bertekad bulat untuk terus mendampingi anggota CU Karya Bersama. “Kalau ada yang meminjam uang, dan mengalami kesulitan dalam pengelolaannya, kami terus mendampingi dia. Kami ikut memikirkan peluang usaha apa yang baik bagi dia. Selain itu, jika dia sudah melunasi pinjamannya, kami masih pantau dia. Karena kan anggota CU terikat dengan simpanan pokok dan simpanan wajib.”

Dwi memang harus terus-menerus mendampingi dan memberi pemahaman kepada anggota bahwa menjadi anggota CU berarti menjadi pemilik CU dan memiliki saham. “Itu yang berat, menanamkan pengertian kepada setiap anggota bahwa CU itu miliknya. Mereka menganggap bahwa CU ini hanya tempat meminjam uang.”

Idealis

Upaya kecil untuk menyejahterakan kelompok petani ini terbentuk setelah melalui proses yang cukup berliku. Semula ada segelintir orang idealis yang sama-sama ingin mencari bentuk untuk menyejahterakan orang banyak. Selain Mas Dwi, ada Alexander Lasmidi, Nikolaus Wibowo, Dwianto, dan A.Y. Diyanto. Pastor Placidus Kusnugroho Pr, yang kini menjabat sebagai penasihat CU, turut bergabung.

Sebenarnya mereka ingin mendirikan bisnis yang lebih menguntungkan diri sendiri. Tetapi, karena beberapa dari mereka mendapat pendidikan mengenai CU, maka tujuan itu mereka alihkan dengan tujuan demi kemaslahatan banyak orang. Mereka memilih bentuk CU. Mereka sudah lebih dulu mendirikan CU, sebelum ada amanat resmi dari Keuskupan Surabaya untuk mendirikan CU. Pertengahan Agustus 2003, CU Karya Bersama resmi didirikan.

Banyak tantangan yang mereka hadapi. Salah satunya, mengubah persepsi orang-orang, karena sebelum CU Karya Bersama berdiri, sudah ada satu koperasi yang akhirnya gulung tikar. Banyak yang merasa trauma dengan hal ini. “Semula kami ragu. Kami banyak ditolak. Makanya, kami berusaha agar CU ini tidak seperti yang dulu ada di sini. Kami belajar terus.”

Salah satu contoh bahwa para pimpinan CU Karya Bersama terus belajar adalah dalam mendampingi anggota di Desa Purwoabri. Penduduk di sana rata-rata bertani padi. Hasil panen padi mereka jual ke anggota yang bertempat tinggal di Dorok. “Mereka tidak menjual melalui CU Karya Bersama, tapi kami memperkenalkan bahwa ada peluang usaha. Jadi, pengembalian pinjaman tidak bisa dalam bentuk barang. Harus dalam bentuk uang.”

Saat itu, mereka diajak bergabung dengan CU lain. Tetapi karena letaknya jauh, dan mereka tidak memiliki dana operasional, akhirnya mereka sepakat membuka sendiri, berapapun modal yang mereka miliki. Sampai sekarang, CU Karya Bersama tetap hadir dengan dana swadaya murni dari anggota. Setiap tahun sekitar 100 orang bergabung menjadi anggota baru.

Penasihat CU Karya Bersama, Pastor Placidus Kusnugroho Pr, mengungkapkan bahwa berdirinya CU Karya Bersama didahului dengan sounding ke komunitas-komunitas petani. Saat itu, para petani masih belum mengenal betul apa itu CU. Setelah mereka mulai memahami manfaat CU, informasi tentang CU Karya Bersama ini mulai menyebar ke komunitas-komunitas lain seperti pedagang, bakul pasar, pegawai kecil, dll.

Walaupun pastor yang akrab dipanggil Romo Nunung ini sekarang berkarya di Paroki St Yusuf Mojokerto, ia tetap memantau perkembangan CU Karya Bersama dengan duduk sebagai penasihat. Setiap tahun ia diundang untuk hadir dalam rapat anggota.

Pewartaan

Meskipun awalnya ia ingin membuka bisnis selepas dari sekolah informatika, Gregorius Dwi Santoso menganggap kiprahnya dan juga teman-temannya di CU sebagai pewartaan. “Kami ingin sedapat mungkin CU kami bisa memberi motivasi, mendorong anggota untuk bisa menabung dan hidup sejahtera. Meskipun tidak langsung di bawah struktur Gereja, kami mengharapkan CU Karya Bersama menjadi Gereja yang hidup di tengah masyarakat, melebur menjadi garam agar masyarakat menjadi sejahtera.”

Untuk mencapai apa yang dicita-citakan itu, Dwi menekankan pentingnya menjaga kepercayaan dari peminjam. “Untuk pinjam di sini ada aturannya. Selain bisa pinjam tiga kali dari simpanannya, dia harus ikhlas hati memberi agunan dan juga wataknya bisa dipercaya.”

Selangkah demi selangkah, CU Karya Bersama semakin maju. Para pengurus CU Karya Bersama terus belajar untuk mengentaskan kemiskinan yang melibat para petani, khususnya di wilayah Kediri. Tentu dengan memegang teguh prinsip CU, yaitu swadaya, mendidik, dan menjaga solidaritas (Hidup, 24 Juli 2012)