27 Agustus 2014

Rencana Pasca Respon Tanggap Darurat Erupsi Kelud

 
Letusan Gunung Kelud pada bulan Februari 2014 telah memporak-porandakan kehidupan masyarakat. Karina Keuskupan Surabaya, Deutscher Caritasverband dan Karina KWI telah berperan aktif dalam membantu masyarakat yang menjadi korban letusan Gunung Kelud. Aneka intervensi telah dilakukan berupa perbaikan atap rumah, atap kandang dan perbaikan sarana air bersih. Aneka jenis bantuan, telah didistribusikan oleh fasilitator lokal yang mendampingi mereka ketika berada dalam kondisi sulit.
 
Setelah pelaksanaan beberapa rancangan kegiatan, Karina Keuskupan Surabaya akan mengadakan 3 kegiatan lanjutan. Kegiatan lanjutan itu berupa Pemasangan Papan Publik, Evaluasi dan Refleksi Pasca Respon Tanggap Darurat dan Peningkatan Kapasitas Relawan.
 
Sebagaimana diketahui, saat respon tanggap darurat, kehadiran fasilitator di lapangan dan distribusi berbagai jenis bantuan kepada warga yang terlaksana dengan baik. Hal ini telah memberikan kenangan khusus bagi warga. Ketika warga ditawarkan untuk memasang papan publik di lokasi strategis, warga menyambut antusias. Papan publik menjadi tanda kehadiran Karina Keuskupan Surabaya, Deutscher Caritasverband dan Karina KWI yang bahu-membahu bersama warga memperbaiki keadaan pasca terjadi bencana. Pemasangan ini menjadi alat bukti kehadiran jejering Caritas di tengah warga yang mengalami bencana dalam misi kemanusiaan yang bersifat universal.
 
Karina Keuskupan Surabaya bersama relawan, fasilitator lokal, perangkat pastoral paroki dan beberapa komunitas sosial di kawasan bencana, telah meluangkan waktu, kemampuan, pikiran dan tenaga yang dimiliki untuk membantu para penyintas. Di antara mereka yang terlibat adalah para relawan yang memiliki kapasitas dan pengalaman dalam melakukan respon tanggap darurat. Tetapi ada banyak orang yang belum memiliki kemampuan. Semua bersatu dan bekerja sama di lapangan. Namun situasi itu tidak lepas dari kesalahpahaman dan mendesak perlunya koordinasi.
 
Secara umum para penyintas sungguh mendapatkan bantuan yang baik dari berbagai pihak yang terlibat. Ketika koordinasi dibangun, maka ada saling pengertian untuk melakukan manajemen respon tanggap darurat, meskipun ada kekurangan. Mereka yang memiliki kapasitas mulai memperkenalkan kajian data logistik pendataan gudang, distribusi bantuan, pelaporan narasi dan keuangan hingga pendampingan untuk kelompok rentan. Di beberapa lokasi pos pelayanan, memiliki keunikan dalam pelaksanaan respon tanggap darurat. Dari pengalaman itu muncul permintaan agar mereka dapat mensharingkan pengalaman selama melakukan respon tanggap darurat. Ada pula keinginan dari warga masyarakat yang meminta pemahaman tentang alur pelayanan tanggap darurat.
 
Pelajaran yang berharga ialah perlunya mengumpulkan dan menemukan hal yang sudah baik dan hal yang masih kurang dalam respon tanggap darurat. Selain itu merumuskan hal baik apa yang sebaiknya dilakukan dalam respon tanggap darurat. Dengan demikian, respon tanggap darurat yang kurang tidak lagi terulang dan ada rumusan dan sistematisasi praktek baik dalam respon tanggap darurat di masa mendatang. Dengan demikian tecipta penguatan jejaring relawan yang terlibat sekaligus mendapatkan masukan tentang respon tanggap darurat dari pihak pemerintah dan lembaga yang kompeten.

Pada bagian akhir, Karina Keuskupan Surabaya akan melibatkan pemangku kepentingan di paroki dalam kegiatan peningkatan kapasitas. Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi relawan Karina Keuskupan Surabaya, tetapi juga bagi perangkat pastoral paroki, komunitas sosial serta bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana. Relawan yang mengikuti pelatihan adalah mereka yang pernah terlibat dalam bencana dan tinggal atau berada di lokasi rawan bencana.

Kemauan para relawan untuk terlibat dalam respon tanggap darurat merupakan modal yang baik untuk melakukan peningkatan kapasitas relawan. Di antara mereka ialah relawan lokal yang cukup mengenal situasi setempat. Dengan peningkatan kapasitas bagi relawan yang tinggal di lokasi dengan kerawanan bencana sangat tinggi, akan memunculkan fasilitator lokal yang memiliki kapasitas memadai dan memiliki jaringan dengan masyartakat setempat. Sehingga mereka mampu melakukan respon tanggap darurat secara mandiri.

Peningkatan kapasitas relawan itu meliputi pembelajaran dalam hal: kode etik pekerja kemanusiaan, membuat laporan situasi, melakukan kajian, pengelolaan logistik, distribusi logistik, pengelolaan keuangan serta pembuatan laporan narasi kegiatan dan laporan keuangan. Materi tersebut akan disampaikan oleh relawan yang memiliki kapasitas dan pengalaman, didukung masukan dari jejaring Caritas. Selain itu ada masukan dari pemerintah berkenaan dengan membangun jaringan dan koordinasi antar instansi terkait bencana. Pelatihan diakhiri dengan pembuatan Rencana tindak lanjut agar kapasitas yang dimiliki bisa dibagikan kepada pemangku kepentingan di setiap tempat. (EDL/ALW)