16 September 2012

Peningkatan Kesejahteraan dan Ketahanan Warga

 
Caritas Surabaya akan melaksanakan kegiatan Peningkatan Kesejahteraan dan Ketahanan Warga di Lokasi Rawan Bencana Longsor, di Dusun Bukul, Desa Wates, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Propinsi Jawa Timur, Indonesia. Secara geografis, daerah ini berada di area perbukitan kapur sebagaimana umum di bagian selatan Pulau Jawa. Sumber air bersih di kawasan ini sangat minim. Meskipun ada beberapa mata air, namun letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk.

Profil Kelompok Sasaran

Desa Wates berada di wilayah selatan kota Ponorogo, tepatnya jalan raya Ponorogo-Pacitan KM 28. Desa Wates berbatasan dengan kabupaten Pacitan. Jumlah penduduk sebanyak 246 KK, terdiri dari1.233 jiwa. Dusun Bukul memiliki jumlah penduduk sebanyak 37 KK, terdiri 188 jiwa. Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan buruh tani, dengan tingkat pendidikan tertinggi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan sebagian besar Sekolah Dasar (SD). Jalan menuju desa Wates masih berupa jalan batu dan naik turun mengitari perbukitan.

Dusun Bukul dipimpin oleh Kepala Dusun dan Bp. Gimin, Kepala Desa, Bp. Budi. Sesepuh desa yang cukup berpengaruh Bp. Yaijo. Sedangkan tokoh pemuda ialah Bp. Suyatno, Bp. Sukatno dan Bp. Kamsari. Ketika bencana tanah longsor terjadi warga mendapat bantuan dari pemangkun kepentingan ekstern, antara lain dari Seksi Sosial Paroki St. Maria, Ponorogo, Stasi St. Maria  Ratu Damai, Slahung dan Karina Keuskupan Surabaya.

Ketika bencana tanah longsor terjadi, tanah di area persawahan dan perkebunan terbelah. Hal ini mengakibatkan tanaman padi dan ketela yang ada di lahan tersebut rusak sehingga sumber penghidupan warga terganggu. Selain itu, warga belum memiliki kapasitas tentang kerawanan bencana di sekitar tempat tinggal mereka. Saat bencana terjadi, aneka kerusakan menganggu kesejahteraan dan ketahanan warga, padahal mereka tidak memiliki sumber pendapatan alternatif.

Warga mengharapkan agar area persawahan dan perkebunan sebagai sumber penghidupan mereka, dapat direvitalisasi dan mendapatkan pengairan yang baik, sehingga dapat ditanami kembali. Mereka juga mengharapkan agar dapat tinggal dengan aman, meskipun berada di kawasan rawan bencana. Selain itu, mereka mengharapkan agar memiliki penghasilan alternatif dan dana cadangan yang dapat digunakan sebagai dana kontigensi jika bencana tanah longsor terjadi.

Alasan

Ketika bencana tanah longsor terjadi, tanah di area persawahan dan perkebunan terbelah. Hal ini mengakibatkan tanaman padi dan ketela yang ada di lahan tersebut rusak sehingga sumber penghidupan warga terganggu. Padahal ada 10 hektar sawah yang mengalami longsor. Tanah yang terbelah juga mengakibatkan saluran irigasi yang mengairi area persawahan rusak. Sawah dan kebun tidak mendapatkan pengairan sehingga tidak dapat ditanam lagi. Warga mengharapkan agar area persawahan dan perkebunan sebagai sumber penghidupan mereka, dapat direvitalisasi dan mendapatkan pengairan yang baik, sehingga dapat ditanami kembali.

Saat bencana terjadi, 7 rumah warga rusak berat tertimbun tanah longsor. Sementara 15 rumah warga berada di lokasi yang terancam tanah longsor. Hal ini menunjukkan bahwa warga belum memiliki kapasitas tentang kerawanan bencana di sekitar tempat tinggal mereka. Lebih jauh lagi, warga tidak memiliki kapasitas tanggap darurat, pengurangan resiko bencana, rencana kontigensi jika terjadi bencana dan peta kawasan rawan bencana. Warga mengharapkan agar dapat tinggal dengan aman, meskipun berada di kawasan rawan bencana. Sehingga tempat tinggal warga terhindar dari kerusakan akibat tanah longsor yang menghilangkan aset rumah tangga mereka. 

Saat bencana terjadi, kerusakan sawah, kebun dan rumah menganggu kesejahteraan dan ketahanan ekonomi warga. Kerusakan sawah dan kebun mengakibatkan sumber kehidupan terganggu. Sementara kerusakan rumah mengakibatkan warga harus mengeluarkan biaya perbaikan. Padahal mereka tidak memiliki sumber pendapatan alternatif. Warga mengharapkan agar memiliki penghasilan alternatif dan dana cadangan yang dapat digunakan sebagai dana kontigensi jika bencana tanah longsor terjadi.

Situasi di lokasi bencana saat ini, tanah area persawahan masih terbelah, berpotensi bergerak, berpindah tempat atau bergeser secara bergulung-gulung menyebabkan longsor berupa tanah bercampur batu. Dalam keadaan demikian, pipa saluran air rusak berat, bahkan beberapa sumber mata air kecil tidak mengeluarkan air lagi. Saat ini warga memasang selang plastik ukuran kecil untuk mengambil air dari jarak yang cukup jauh, sehingga jumlah air yang sampai di rumah warga tidak memenuhi kualitas dan kuantitas karena air kotor. Secara umum, tingkat kerawanan masih tinggi dan sangat berpeluang, terutama di sekitar Dusun Bukul yang sangat berpotensi longsor, terutama di musim penghujan.

Analisa

Berdasarkan analisa sebab, bencana tersebut menyebabkan menurunnya penghasilan warga yang rendah. Hal itu disebabkan oleh sawah dan kebun sumber penghasilan terganggu, hilangnya aset rumah tangga warga dan tidak ada alternatif penghasilan atau cadangan dana. Hal ini karena pertama, sawah tidak dikelola dengan baik yang disebabkan oleh sawah terkena longsor karena kebijakan penanaman pohon pinus tidak menahan longsor. Selain itu, sumber air terkena longsor karena belum ada pipanisasi dan warga belum diorganisir.

Kedua, ternak tidak dikelola secara intensif yang disebabkan oleh tidak adanya pemanfaatan biogas, karena warga tidak mengenal pengandangan ternak dan terbiasa melepas ternak. Selain itu, tidak ada penyuluhan peternakan karena tidak ada penyuluh yang kompeten. Ketiga, kurangnya pemahaman warga tentang kawasan rawan longsor. Hal ini karena tidak ada kesiapsiagaan dan tidak mengenal strategi menghadapi bencana. Keempat, tidak ada alternatif penghasilan. Hal ini karena kurangnya diversifikasi usaha karena sumber daya alam lokal tidak digarap, usaha warga masih tradisional dan kurangnya keterampilan usaha. Selain itu, tidak ada pengenalan Credit Union, karena lembaga keuangan mikro tidak masuk ke desa tersebut.

Berdasarkan analisa sasaran, akan diusahakan meningkatkan pendapatan warga. Usaha yang dilakukan ialah pemberdayaan area sawah sebagai sumber penghidupan warga, terjaganya aset rumah tangga warga dan ada alternatif penghasilan. Hal ini didukung dengan upaya, pertama, pengelolaan sawah yang baik dengan mengusahakan pembuatan talud, penanaman tanaman jati dan advokasi kebijakan penanaman tanaman keras. Selain itu diusahakan agar sumber air aman dari longsor dengan memperbaiki penyaluran air dan pengorganisasian warga.

Kedua, pengenalan kawasan rawan bencana tanah longsor. Usaha yang dilakukan ialah ada kesiapsiagaan, rencana pengurangan resiko bencana dan kontingensi warga dengan pengenalan kebencanaan. Ketiga, mengusahakan alternatif penghasilan warga. Usaha yang dilakukan berupa diversifikasi usaha, pengenalan potensi sumber daya alam lokal, wirausaha semakin bertambah dan maju. Selain itu, mengusahakan pedana cadangan bencana dengan pengenalan dan menghadirkan Credit Union supaya terbentuk di desa tersebut.

Berdasarkan analisa eksternal dan internal, menghadapi masalah sawah sumber penghidupan warga terganggu, ada kekuatan warga untuk diorganisir, gotong-royong dan peluang dukungan dari aparat desa, lembaga pemerintah, keberadaan sumber air dan peluang advokasi kebijakan penanaman tanaman keras. Berhadapan dengan masalah hilangnya aset rumah tangga warga, ada kekuatan dari warga untuk diorganisir, gotong-royong dan dukungan dari Caritas Surabaya, lembaga pemerintahan dan BPBD. Berhadapan dengan masalah tidak ada pendapat alternatif, ada kekuatan dari warga untuk diorganisir, gotong-royong dan sebagian besar memiliki ternak serta dukungan dari Seksi Sosial Paroki dan Stasi serta Credit Union.

Berdasarkan matriks SWOT, masalah sumber penghidupan warga terganggu akan diatasi dengan kegiatan Revitalisasi Pengolahan lahan pertanian. Masalah kurangnya kesadaran warga terhadap ancaman bencana tanah longsor diatasi dengan Pelatihan tanggap darurat dan Pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat. Masalah rendahnya pendapatan warga diatasi dengan pengenalan wirausaha dan Credit Union.

Rencana Kegiatan

Kegiatan-kegiatan yang dirancang, seperti Pelatihan tanggap darurat dan Pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat, Inisisasi kewirausahaan dan Credit Union dirancang agar membawa hasil berupa Aksi kesiapsiagaan bencana dan Penyiapan dana cadangan bencana. Hasil tersebut akan tercapai dengan asumsi: ada nara sumber yang kompeten, ada material yang diperlukan dan ada dukungan warga dalam menindaklanjuti pelatihan.

Sasaran Program Aksi Kesiapsiagaan Warga Di Kawasan Rawan Bencana Tanah Longsor akan tercapai dengan asumsi: ada dukungan dari lembaga yang memfasilitasi dan ada dukungan dari aparat serta lembaga pemerintah.

Sasaran Jangka panjang program berupa Pemberdayaan Kesiapsiagaan Warga di Kawasan Rawan Bencana Tanah Longsor, akan tercapai dengan asumsi: ada ketahanan hidup di lokasi rawan bencana, ada semangat warga untuk bertani dan beternak, ada kepercayaan dari lembaga keuangan dan ada dukungan dari aparat dan lembaga pemerintah.

Kegiatan-kegiatan yang dirancang, seperti Pelatihan tanggap darurat dan Pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat dan Inisasi kewirausahaan dan Credit Union memiliki resiko. Resiko tersebut ialah: penyerapan dana tidak maksimal, pelaksanaan terlambat, jumlah hasil proyek tidak sesuai dengan rencana, warga tidak antusias dan tingkat kehadiran rendah.

Upaya mitigasi resiko yang dirancang ialah, membuat budget lebih realistis, menambah program, membangun komunikasi antara fasilitator dan warga, meminta konfirmasi kepada warga, memadatkan jadwal, menunjuk koordinator pelatihan, mengkomunikasikan jadwal baru, membuat surat perjanjian dengan warga, memberi bantuan teknis, melakukan pendekatan personal, mengkomunikasikan kegiatan secara intensif, menyediakan stimulus dan meminta dukungan perangkat desa.

Sebagai langkah keberlanjutan, pada kegiatan Pelatihan tanggap darurat dan kesiapsiagaan dan Pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat akan dilanjutkan dengan pembentukan dan pengesahan Tim kerja tanggap darurat dan pengurangan resiko bencana warga yang akan didampingi Caritas Surabaya Posko Madiun. Sementara kegiatan revitalisasi prasarana dengan prasarana kegiatan pengolahan lahan pertanian akan dilanjutkan dengan menghubungkan kelompok tani warga dengan Kelompok Tani Ora Et Labora, Paroki St. Hilarius, Klepu, Ponorogo

Pada kegiatan inisiasi kewirausahaan dan Credit Union, akan dilanjutkan dengan pendampingan warga dengan dukungan dan pendampingan dari Seksi Sosial Paroki St. Maria, Ponorogo dan Credit Union Bina Sejahtera, Paroki St. Yosep, Ngawi.